| Foto : Restorasi AI |
MUHAMMADIYAHMERANTI.OR.ID, Lebih dari lima dekade sejak kepergian Abdul Kahar Mudzakkir pada tahun 1973, nama dan warisannya tetap hadir dengan penuh makna. Nilai-nilai yang ia tanamkan sepanjang hayat terus dirasakan manfaatnya — khususnya oleh masyarakat Kotagede dan seluruh pihak yang pernah bersinggungan langsung dengan sosoknya. Baik dalam kapasitasnya sebagai pendakwah, pejuang, pendidik, maupun pribadi yang membumi di tengah masyarakat.
Budayawan sekaligus keponakan beliau, Achmad Charris Zubair, mengungkapkan pandangannya dalam sebuah film dokumenter yang mengabadikan perjalanan hidup Kahar Mudzakkir.
"Melihat manusia itu adalah melihat Pak Kahar Mudzakkir," ujarnya — sebuah pernyataan yang mencerminkan betapa kepribadian Kahar menjadi representasi ideal seorang manusia yang utuh.
Seluruh laku hidup Kahar Mudzakkir memang mencerminkan keselarasan antara nilai, ilmu, dan pengabdian. Ketiga hal itu bukan sekadar atribut, melainkan fondasi yang ia bangun sejak dini dan ia jalankan hingga akhir hayat.
Agama: Fondasi Karakter yang Tak Tergoyahkan
Kahar Mudzakkir dikenal luas sebagai sosok yang teguh dalam keyakinan dan konsisten dalam pengamalan nilai-nilai Islam. Kesalehan yang ia tunjukkan bukan hasil dari proses instan, melainkan buah dari pembentukan karakter yang dimulai sejak masa kecil.
Tumbuh di lingkungan Kotagede yang kala itu kental dengan budaya sinkretisme, Kahar justru dibesarkan dalam keluarga yang berpegang erat pada ajaran Islam yang murni. Keluarga besarnya memiliki peran strategis dalam perkembangan gerakan Muhammadiyah di kota perak tersebut. Pamannya, Masyhudi, tercatat sebagai salah satu pendiri Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kotagede. Sementara ayahnya, Kyai Mudzakir, seorang guru agama di Masjid Gede Mataram, turut berkontribusi sebagai donatur pembangunan Masjid Perak milik Muhammadiyah.
"Dari sisi keturunan, memang keturunan orang-orang yang fakih di dalam Islam," tutur Trias Setiawati dalam film dokumenter tersebut.
Dari lingkungan itulah pendidikan agama pertama kali menyentuh kehidupan Kahar — berawal dari kegiatan mengaji di pendapa rumah kakeknya. Pengalaman awal ini bukan sekadar ritual, melainkan menjadi titik awal terbentuknya jati diri, integritas, dan kompas moral yang ia pegang teguh seumur hidup.
Ilmu: Jalan Panjang Menuju Peradaban
Semangat keagamaan yang kuat mendorong Kahar untuk tidak berhenti pada satu sumber ilmu. Dengan tekad yang bulat, ia menempuh perjalanan panjang dari satu pesantren ke pesantren lainnya — mulai dari Al Munawwir Krapyak, Tremas Pacitan, Jamsaren, hingga Madrasah Mambaul Ulum Surakarta.
Di setiap lembaga yang ia singgahi, Kahar menyerap beragam disiplin ilmu keislaman secara menyeluruh: ulumul Qur'an, tafsir, ulumul hadits, fiqih, aqidah, akhlak, nahwu, sharaf, ushul fiqh, hingga balaghah. Yang lebih membanggakan, meski tumbuh dalam lingkungan Muhammadiyah, Kahar tidak pernah memandang perbedaan mazhab atau aliran sebagai hambatan. Sebaliknya, keberagaman ia jadikan sebagai ruang belajar untuk memahami Islam secara lebih luas dan kontekstual.
Tidak berhenti di tanah air, Kahar mengambil langkah berani dengan melanjutkan studinya ke Mesir. Di sana, ia memperluas cakrawala pengetahuan sekaligus membangun jejaring dengan para ilmuwan dan cendekiawan internasional. Semua itu ia tempuh demi satu visi besar: membangun peradaban pendidikan Indonesia yang berkualitas dan inklusif.
Visi tersebut akhirnya terwujud. Sekembalinya ke tanah air, Kahar Mudzakkir menorehkan pencapaian monumental sebagai arsitek pendidikan Islam Indonesia — tokoh yang mempelopori kelahiran berbagai perguruan tinggi berbasis Islam di Nusantara.
Kemaslahatan Umat: Puncak dari Seluruh Pengabdian
Seluruh perjalanan hidup Abdul Kahar Mudzakkir bermuara pada satu misi yang konsisten: memberi manfaat seluas-luasnya bagi umat. Agama membentuk kepribadiannya; ilmu memperluas kapasitasnya. Keduanya berpadu menjadi modal utama dalam menjalankan pengabdian yang tulus dan tak kenal batas.
Syukriyanto AR, Dewan Pakar LSBO Pimpinan Pusat Muhammadiyah, memberikan ungkapan yang tepat untuk menggambarkan sosok Kahar:
"Jalma pinilih rembesing madu. Ngayahi darmaning gesang" manusia terpilih yang hidupnya senantiasa mengalirkan kebaikan dan mengemban tugas pengabdian.
Pengabdian itu hadir dalam bentuk yang paling nyata dan membumi. Kahar dikenal sebagai pribadi yang hangat, terbuka, dan aksesibel bagi siapa pun. Pintu rumahnya hampir tidak pernah tertutup bagi warga yang ingin bersilaturahmi, berbagi cerita, maupun mencurahkan persoalan hidup.
Bahkan dalam perjalanan sehari-hari menggunakan andong menuju kantor pun, Kahar tidak melepaskan perannya sebagai pendidik dan pendakwah. Ia dengan sabar mendengarkan dan menjawab pertanyaan dari rekan-rekan seperjalanannya — yang sebagian besar adalah para pedagang sayur di Pasar Beringharjo.
"Temannya yang se-andong itu ya bakul-bakul. Ada curhat, ada tanya, sehingga sering seperti pengajian di dalam andong — dan itu terjadi setiap saat," kenang Syukriyanto.
Dalam keseharian, Kahar tampil dengan penampilan yang bersahaja: kemeja tanpa dasi, sarung, dan peci. Sikap zuhud terpancar kuat dari kepribadiannya — dunia bukan tujuan, melainkan sarana pengabdian.
Komitmen itu ia buktikan melalui tindakan nyata. Ketika seorang mahasiswanya kehilangan uang pendaftaran karena kecopetan, Kahar tanpa ragu menyerahkan uang pribadinya.
"Saudara jadi masuk STI. Ini uang asrama dan uang kuliah," ujarnya, sebagaimana dikutip dalam buku Dari Muhammadiyah Untuk Indonesia.
Di masa-masa sulit perintisan Sekolah Tinggi Islam, Kahar bahkan rela menjual seluruh hasil panen kelapanya demi memastikan para dosen tetap menerima gaji mereka. Sebuah keputusan yang melampaui tugas seorang rektor — dan mencerminkan kebesaran hati seorang pemimpin sejati.
Kisah hidup Abdul Kahar Mudzakkir adalah cermin dari apa yang bisa dicapai ketika agama, ilmu, dan pengabdian berjalan seiring. Warisannya bukan sekadar catatan sejarah, melainkan panduan hidup yang tetap relevan — bahwa hakikat kehadiran manusia adalah untuk memberi manfaat, dan bahwa ilmu tanpa nilai adalah kekuatan tanpa arah.