MUHAMMADIYAHMERANTI.OR.ID, Di tubuh Persyarikatan Muhammadiyah, sejumlah nama lekat dengan dunia kemiliteran. Di antaranya Bapak TNI Jenderal Sudirman, Mayor Jenderal Tituler Buya AR Sutan Mansur, dan Letnan Kolonel Tituler K.H. Raden Muhammad Junus Anies. Nama terakhir bukan sekadar tokoh militer — ia adalah Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1959–1962 yang juga pernah menjabat Kepala Pusat Rohani (kini Pusbintal) Angkatan Darat RI pada 1954, dengan pangkat tituler yang mencerminkan statusnya sebagai figur sipil-religius, bukan prajurit murni.
Keturunan Raja, Lahir di Jantung Kauman
Lahir di Kauman, Yogyakarta, 3 Mei 1903, Junus Anies adalah keturunan ke-18 Raja Brawijaya V, sebagaimana tercatat dalam Surat Kekancingan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tahun 1961. Ayahnya, Haji Muhammad Anis, merupakan Abdi Dalem Kraton, sementara ibunya bernama Siti Saudah. Sebagai anak sulung dari sembilan bersaudara, Junus tumbuh dalam lingkungan yang kental nilai keislaman. Saudaranya, Raden Haji Syarkawi, bahkan tercatat sebagai salah satu tokoh dalam struktur Hoofdbestuur Muhammadiyah tahun 1912.
Mubalig Militan yang Menjelajah Nusantara
Pendidikan formal Junus dimulai di Sekolah Rakyat Muhammadiyah Yogyakarta, sebelum ia merantau ke Batavia dan belajar di Sekolah Al-Attas serta Al-Irsyad di bawah bimbingan Syekh Ahmad Surkati — sahabat KH Ahmad Dahlan. Tempaan itulah yang membentuknya menjadi mubalig militan. Setelah resmi bergabung dengan Muhammadiyah pada 1925, ia segera melanglangbuana merintis dakwah ke Makassar (1926), Aceh (1928), Gorontalo (1929), Bengkulu, Ujungpandang, hingga Sumatera Barat. Di setiap daerah yang ia singgahi, cabang-cabang Muhammadiyah berdiri sebagai buah kerja kerasnya. Bahkan di Pulau Sangihe — wilayah paling ujung yang berbatasan dengan Filipina — ia turut membuka sekolah dan cabang Muhammadiyah pertama.
Selain berdakwah, Junus juga dikenal sebagai jurnalis kritis yang gigih menentang Ordonansi Guru 1905 dan 1925 yang diberlakukan pemerintah Hindia Belanda. Pidato penolakannya dalam Kongres Muhammadiyah ke-17 di Yogyakarta (1928) bahkan dimuat surat kabar De Locomotief. Ia juga sempat memimpin majalah Ilmu dan Amal Suara Muhammadiyah serta Bintang Islam.
Enam Kali Sekretaris, Satu Kali Ketua Umum
Karir Junus di Persyarikatan dibangun di atas reputasi sebagai orator ulung, administrator disiplin, dan organisatoris yang teliti. Tak kurang dari enam periode ia menjabat Sekretaris PP Muhammadiyah (1928–1959), sebelum akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum ke-7 melalui mekanisme demokratis forum Tanwir — bukan karena paksaan, melainkan atas kepercayaan penuh dari rekan-rekannya.
Suratmin (1999) mencatat: "Sebagai seorang orator, beliau tampil mubalig sekaligus penggerak sehingga Muhammadiyah menjadi gerakan yang dinamis. Sebagai seorang administrator, beliau telah ikut meletakkan dasar–dasar administrasi Muhammadiyah secara tertib."
Lompatan Luar Biasa Cabang dan Ranting
Salah satu warisan terbesar kepemimpinan Junus adalah lonjakan jumlah Cabang dan Ranting Muhammadiyah. Dalam catatan Suara Muhammadiyah (2018), dari 1912 hingga 1960 Muhammadiyah hanya berhasil membangun 1.835 Cabang dan Ranting. Namun dalam tiga tahun kepemimpinan Junus, angka itu melesat menjadi 2.740 — bertambah 905 unit dalam waktu singkat. Bagi Junus, akar rumput adalah nafas organisasi. Tanpa jamaah yang hidup di tingkat bawah dan sistem yang ditaati, organisasi sebesar apapun hanya tinggal menunggu waktu untuk bubar.
Penggagas Kepribadian Muhammadiyah
Selama masa jabatannya, Junus juga mengawal perumusan Kepribadian Muhammadiyah — sebuah dokumen panduan identitas gerakan yang digarap oleh tim pimpinan KH Faqih Usman dan disahkan dalam Muktamar ke-35 tahun 1962. Tiga fokus utama kepemimpinannya mencakup pembinaan potensi internal, sinergi dengan kekuatan umat Islam di luar Muhammadiyah, serta peneguhan kemudi pimpinan agar menjadi teladan bagi seluruh anggota.
Pesan yang Tak Lekang Waktu
Junus Anies wafat pada 1979 di usia 76 tahun dan dimakamkan di Karangkajen, Yogyakarta — berdampingan dengan makam KH Ahmad Dahlan dan para perintis Muhammadiyah lainnya. Sebagai penghargaan, Universitas Muhammadiyah Jakarta meresmikan Masjid Yunus Anis pada Oktober 2022.
Dua pesannya masih relevan hingga kini. Pertama, soal jarak Muhammadiyah dari politik praktis, yang ia sampaikan dengan jenaka dalam Muktamar ke-35: "Para politikus suka mengatakan bahwa kalau Muhammadiyah tetap bersikukuh tidak berpolitik, tentu akan dimakan politik. Jawaban kita: silahkan makan kalau memang doyan. Tapi awas, kalau nanti keleleden. Ditelan tidak masuk, dilepeh tidak keluar."
Kedua, soal ketakwaan yang melampaui status sosial: "Hamba Allah itu harus bertakwa. Jadi Tukang Sapu, Pegawai Negeri, Prajurit, bahkan Presiden sekalipun haruslah bertakwa."
